Kadang Rezeki Datang, Tapi Kita Bilang: Kurang.

Saya pernah melihat uang Rp100 ribu tergeletak di sudut jalan. Tapi, bukannya saya ambil, uang itu malah saya biarkan begitu saja.

Ketika saya ceritakan ke teman, dia langsung bertanya, “Kenapa nggak diambil aja?”

Saya jawab santai, “Saya butuhnya Rp250 ribu, Bro!”

😂

Tentu, itu fiksi, jokes yang saya dengar di radio beberapa hari yang lalu. Jokes ini lucu karena kita dibuat berpikir ke arah yang berbeda.

Di awal, kita mungkin mengira saya sedang sok bermoral. Mungkin tidak mau mengambil hak orang lain. Atau takut uang itu membawa masalah. Bisa juga karena terlalu takut dengan karma.

Ternyata bukan.

Masalahnya sederhana: nominalnya kurang.

Saya butuh Rp250 ribu, sementara yang tersedia cuma Rp100 ribu. Jadi, dalam logika yang absurd tapi entah kenapa masuk akal, ya buat apa diambil?

Di tengah kondisi sekarang, Rp100 ribu memang kadang terasa nanggung. Mau dipakai belanja, cepat habis. Buat bayar tagihan, masih kurang. Buat nutup utang, mungkin baru cukup untuk bilang, “Nanti saya lunasi sisanya.”

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, Rp100 ribu tetaplah Rp100 ribu.

Bisa buat bensin. Bisa buat makan. Bisa buat kebutuhan kecil yang ternyata cukup berarti.

Mungkin masalahnya bukan pada kecilnya rezeki, tapi karena kebutuhan kita sudah terlanjur lebih besar.

Dan lucunya, kadang kita terlalu sibuk menunggu Rp250 ribu, sampai lupa menghargai Rp100 ribu yang sudah ada di depan mata.

Jadi kalau lain kali menemukan uang Rp100 ribu di jalan… ambil kalau memang itu hak Anda.

Meta Ad Specialist for NGO | Amal Hebat

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *