Kadang yang paling sulit bukan melepaskan seseorang, melainkan melepaskan masa depan yang pernah kita bayangkan bersamanya.
Kamu mungkin tidak sedang merindukan orangnya sepenuhnya. Bisa jadi yang kamu rindukan adalah harapan, percakapan, atau versi dirimu ketika masih percaya bahwa semuanya akan berakhir indah.
Tapi ingat satu hal.
Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita ditakdirkan untuk tinggal. Ada yang datang untuk mengubah kita, tapi bukan untuk memiliki kita.
Jika memang dia bukan takdirmu, bukan berarti kisah itu gagal. Bisa jadi kisah itu berhasil mengajarkanmu cara mencintai, cara kehilangan, dan cara menjadi manusia yang lebih matang.
Jangan melawan rasa itu. Akui saja.
“Ya, saya pernah mencintainya. Dan itu nyata.”
Namun setelah itu, tambahkan kalimat ini:
“Saya juga memilih menghormati keputusan Allah atas hidup saya.”
Karena cinta yang tidak sampai bukan berarti sia-sia. Ia hanya selesai pada bab yang berbeda.
Dan izinkan saya mengingatkanmu dengan sebuah pertanyaan sederhana:
Kalau suatu hari nanti kamu bertemu dengan orang yang benar-benar ditakdirkan untukmu, apakah kamu ingin menyambutnya dengan hati yang masih sibuk menoleh ke belakang?
Hidupmu masih panjang. Masih banyak orang yang akan merasakan manfaat dari tulisanmu, pikiranmu, dan kebaikan yang kamu lakukan. Jangan biarkan seseorang yang tidak bisa kamu miliki mengambil terlalu banyak ruang dari masa depan yang masih bisa kamu bangun.
Terakhir, pegang kalimat ini ketika rasa itu datang lagi:
“Saya tidak kehilangan dia. Saya hanya kehilangan kemungkinan yang memang tidak pernah menjadi milik saya. Yang Allah tetapkan untuk saya, tidak akan pernah tertukar.”
Semoga Allah mengganti setiap rasa yang belum sempat bersatu dengan ketenangan yang tidak bergantung pada siapa pun. Dan ketika waktunya tiba, semoga kamu dipertemukan dengan seseorang yang tidak perlu kamu perjuangkan sendirian, karena ia juga sedang berdoa untuk dipertemukan denganmu. Aamiin.
